Kamis, 21 Februari 2019

Teks Editorial


Banyak Tugas Membuat Anak Mengalami Gangguan

Sejak sekolah dasar, kita pasti tidak asing dengan tugas yang dibawa pulang ke rumah, atau biasa disebut PR. PR ini identik dengan lembar kerja siswa yang berupa lembar kerja untuk menulis, menghitung, mewarnai, atau apapun itu. PR yang diberikan guru juga bervariatif, mulai dari yang mudah sampai yang susah. Tak jarang, orangtua pun jadi ikut kelimpungan untuk membantu mengerjakan PR sang buah hati. Namun, ternyata PR buruk untuk kesehatan anak.
Sejak semasa TK sampai SMA, penelitian terbaru menunjukkan kalau beberapa siswa mendapatkan tugas PR dari sekolah dalam jumlah yang terlalu banyak. Hal ini membuat para siswa dipaksa untuk menangani beban yang tidak seimbang dengan tingkat perkembangan mereka, sehingga dapat menyebabkan tekanan yang signifikan, baik untuk anak-anak maupun orang tua.
            Penelitian yang dilakukan oleh sekelompok peneliti Australia menyelidiki hubungan antara waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan rumah dengan prestasi akademis siswa. Hasilnya, mereka menemukan jika kebanyakan siswa yang mendapatkan terlalu banyak PR justru akan meningkatkan masalah kesehatan karena kurang tidur, stres, kurang waktu bermain, dan lain sebagainya. Terlalu banyak PR tidak membantu anak-anak mendapatkan nilai bagus di sekolah, namun pada kenyataannya hal ini justru malah membuat nilai ujian mereka anjlok. Bahkan pernah ada kejadian di Tiongkok yang nekat loncat dari gedung karena terlalu tertekan akibat tugas yang terlalu banyak serta takut karena tidak dapat mengerjakan tugas tersebut. Selain itu pasti masih banyak lagi yang pernah mengalaminya. Pekerjaan rumah bisa memengaruhi berat badan. Ketika anak-anak pulang, lalu menghabiskan sebagian besar waktunya di depan meja belajar.
            Hal ini diperkuat oleh Richard Walker, seorang psikolog pendidikan di Universitas Sydney yang mengatakan jika data menunjukkan bahwa di negara-negara yang mayoritas anak-anaknya lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengerjakan PR, justru mendapatkan nilai lebih rendah pada tes standar yang disebut Program for International Student Assessment, atau PISA.
            Lalu ada peneliti lain yang dilakukan oleh Profesor Etta Kralovec dari Universitas Arizona, ia mengatakan PR memang memiliki manfaat signifikan bagi siswa SMA. Tapi manfaatnya menurun pada siswa SMP dan sama sekali tak bermanfaat bagi siswa SD.

41 komentar:

  1. Tulisannya sudah baik:) akan lebih menarik jika diberi animasi/gambar pada tulisan² selanjutnya..

    BalasHapus
  2. itu kata susah na lebih enak klw d ganti kata sulit..dari yang mudah sampai yang sulit,nah klw kelimpungan tuh apa?kata² yg kurang di mengerti bnyk orang lebih baik d kurangi,akan lebih baik d ganti pake kata² yg udh terkenal d luar sana atau mudah d fahami..

    BalasHapus
  3. Mantaap dian, pengertian bgt nih tulisannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe iya dong kan pernah ngalamin tpi ga sampe kaya gitu ya

      Hapus
  4. Naahh harusnya ngga usah dikasih tugas yaa wkwk:v

    BalasHapus
  5. Haha iya tuh bener
    Lanjutkan ka ๐Ÿ˜€

    BalasHapus
  6. Haha iya tuh bener
    Lanjutkan ka ๐Ÿ˜€

    BalasHapus
  7. Setuju! Musnahkan tugas hehe.

    BalasHapus
  8. seperti terwakilkan hehe, bagus nih

    BalasHapus